Weekly Newsletter 8 Mei 2026: IHSG Bangkit di Tengah Meredanya Ketegangan Geopolitik dan Turunnya Harga Minyak
Tensi Geopolitik Mereda, Harga Minyak Melemah, Sentimen Pasar Global Berbalik Positif Sentimen pasar global pada pekan ini cenderung membaik seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Indeks Wall Street ditutup menguat pada 6 Mei 2026, didorong oleh optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan melanjutkan rally hingga mencetak rekor tertinggi baru.
Sentimen positif muncul setelah adanya laporan bahwa kedua negara tengah membahas proposal perdamaian, termasuk moratorium pengayaan nuklir Iran. Meski demikian, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum final karena Iran masih dalam tahap mengevaluasi proposal yang diajukan AS.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, harga minyak mentah Brent pada 7 Mei 2026 stabil di kisaran USD102 per barel setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 12% ke level USD96,73 pada sesi perdagangan sebelumnya. Investor mulai mempertimbangkan prospek tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
Kembali melemahnya harga Brent Oil menjadi katalis positif bagi Indonesia mengingat Indonesia masih merupakan negara net importir minyak. Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi beban APBN untuk subsidi BBM sekaligus membantu membatasi pelemahan nilai tukar Rupiah.
Dari sisi ekonomi global, ekonomi Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,0% secara tahunan pada kuartal I 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 0,5% pada kuartal sebelumnya, meskipun masih sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 2,3%. Pertumbuhan ini didorong oleh rebound belanja pemerintah sebesar 4,4% setelah sebelumnya terkontraksi 5,6% pada kuartal IV 2025, seiring kembali normalnya aktivitas pasca berakhirnya government shutdown.
Selain Amerika Serikat, katalis positif juga datang dari China. Laba industri China tumbuh 15,5% YoY pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 15,2%. Sementara itu, data PMI manufaktur China juga melampaui ekspektasi, dengan PMI NBS berada di level 50,3 dan RatingDog di level 52,2. Data tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar saham mengingat China merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Dengan membaiknya aktivitas ekonomi China, permintaan ekspor Indonesia berpotensi meningkat.
Rupiah Melemah, Namun Fundamental Domestik Masih Relatif Solid
Dari domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77% QoQ pada kuartal I 2026 dibandingkan pertumbuhan 0,86% QoQ pada kuartal IV 2025. Meski demikian, angka tersebut masih lebih baik dibandingkan estimasi pasar yang memperkirakan kontraksi sebesar 0,97% QoQ. Secara historis, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I memang cenderung mengalami kontraksi dibandingkan kuartal IV. Sementara secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru meningkat menjadi 5,61% YoY pada kuartal I 2026 dari sebelumnya 5,39% YoY di kuartal IV 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat seiring berlanjutnya stimulus pemerintah serta momentum Hari Raya Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri.
Source: Tradingeconomics
Namun demikian, beberapa indikator domestik masih menunjukkan tekanan. PMI Manufaktur Indonesia pada April 2026 masuk ke area kontraksi dengan turun ke level 49,1 dari sebelumnya 50,1 pada Maret. Penurunan ini menjadi level terendah sejak Juni 2025 dan dipengaruhi oleh dampak konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Selain itu, surplus neraca perdagangan juga turun menjadi USD3,32 miliar pada April 2026 dibandingkan USD4,33 miliar pada bulan sebelumnya.
Source: Tradingeconomics
Di pasar valuta asing, Rupiah sepanjang sepekan lalu melemah sekitar 1,69% ke level Rp17.400 per dolar AS. Rupiah bahkan bergerak mendekati rekor terendah di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penurunan cadangan devisa Indonesia. Penurunan cadangan devisa tersebut menimbulkan keraguan pasar terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah, terutama menjelang rilis data cadangan devisa April setelah data Maret turun ke level terendah dalam hampir dua tahun terakhir.
Pelemahan Rupiah tersebut terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) justru melemah sekitar 0,87% ke level 97,97. Indeks dolar turun di bawah level 98 karena pasar mulai memperhitungkan meningkatnya probabilitas tercapainya kesepakatan damai AS-Iran.
Sementara itu, inflasi Indonesia melambat ke level 2,4% YoY pada April 2026 dari sebelumnya 3,48% pada Maret, sekaligus menjadi level terendah sejak Agustus 2025. Perlambatan inflasi terutama dipengaruhi oleh moderasi kenaikan harga pangan dan perumahan.
Source: Tradingeconomics
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Salah satunya adalah rencana penerbitan Panda Bonds sebagai upaya diversifikasi sumber pembiayaan internasional sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. Melalui penerbitan ini, pemerintah diharapkan tidak hanya bergantung pada pembiayaan berbasis dolar AS serta berpotensi memperoleh tingkat suku bunga yang lebih rendah.
Selain itu, pemerintah merevisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA yang mewajibkan eksportir menempatkan dana hasil ekspor di bank Himbara dan mengonversi maksimal 50% ke Rupiah mulai 1 Juni 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu memperkuat likuiditas valas domestik dan menjaga stabilitas Rupiah.
Pemerintah juga bersiap memberikan insentif subsidi untuk pembelian kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) mulai awal Juni 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat sekaligus membantu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
Update Pasar Keuangan Domestik Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun pada perdagangan Kamis (30/04) ditutup turun 5 bps ke level 6,85%. Secara mingguan, yield SBN sebenarnya masih mengalami kenaikan di seluruh tenor, terutama tenor 2 tahun dan 5 tahun yang naik dalam rentang 18–28 bps, sementara tenor menengah hingga panjang naik lebih terbatas sekitar 6–8 bps. Meski demikian, per 6 Mei 2026 yield SBN 10 tahun kembali turun sebesar 14,9 bps ke level 6,701%, yang menunjukkan sentimen pasar mulai membaik.
Dari lelang SRBI terakhir pada 29 April 2026, total pemenang tercatat sebesar Rp27 triliun dibandingkan Rp45 triliun pada lelang sebelumnya. Rentang penawaran SRBI tenor 12 bulan berada pada kisaran 6,00%–6,50%.
Dari sisi kebijakan fiskal, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung pada 27 April 2026 menyampaikan adanya penyesuaian anggaran program MBG yang dipangkas dari lima menjadi empat hari per minggu. Dengan estimasi anggaran Rp1 triliun per hari, skema baru tersebut diperkirakan dapat menghemat belanja pemerintah hingga Rp50 triliun per tahun.
Di pasar saham, secara mingguan, IHSG masih tercatat melemah sebesar 5,72% dengan total net foreign outflow mencapai Rp3,25 triliun. Meski demikian, pada perdagangan 7 Mei 2026 IHSG kembali dibuka menguat ke level 7.200 atau naik 1,59%, seiring meredanya tensi geopolitik global yang mendorong sentimen pasar kembali ke arah risk-on.
Top Reksa dana Of the Month
Strategi Investasi: Memanfaatkan peluang rebound IHSG
Meredanya tensi geopolitik global, penurunan harga minyak, serta mulai membaiknya sentimen pasar menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia. Di sisi lain, berbagai kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik juga berpotensi membantu meningkatkan kepercayaan investor secara bertahap.
Meskipun volatilitas pasar masih mungkin terjadi, kondisi saat ini mulai membuka peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap, terutama pada instrumen yang memiliki potensi memperoleh manfaat dari membaiknya sentimen pasar dan potensi rebound IHSG ke depan.
Dalam kondisi tersebut, investor dapat mempertimbangkan instrumen investasi yang dikelola secara aktif dan memiliki diversifikasi portofolio yang baik, seperti reksa dana saham, untuk mengoptimalkan peluang pertumbuhan sekaligus menjaga profil risiko investasi.
Selain itu, bagi investor dengan profil risiko yang lebih konservatif, strategi defensif masih tetap relevan dalam kondisi saat ini. Meskipun ketegangan geopolitik mulai mereda, potensi volatilitas pasar masih cukup tinggi mengingat proses perdamaian belum sepenuhnya tercapai dan saat ini masih berada pada tahap menuju kesepakatan.
Oleh karena itu, reksa dana pendapatan tetap tetap dapat menjadi pilihan investasi yang menarik, karena berpotensi memberikan imbal hasil yang relatif optimal sekaligus membantu menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian pasar yang masih berlangsung.
Beberapa produk reksa dana yang bisa Yamin rekomendasikan adalah
Reksa Dana Saham
- • Sucorinvest Maxi Fund 1Y return historis 58,52%*
- • Pinnacle Strategic Equity Fund 1Y return historis 27,62%*
Reksa Dana Pendapatan Tetap:
- • KIM Fixed Income Fund Plus 1Y return historis 9,83%*
- • Insight Renewable Energy Fund 1Y return historis 8,49%*
*Return berdasarkan NAB 6 Mei 2026
Yuk investasi reksa dana di Sayakaya!
#KayaBersama
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.
Lihat Blog Lainnya
Reksa Dana Saham: Memahami Risiko Sebelum Mengejar Imbal Hasil
Reksa dana saham adalah jenis reksa dana yang menempatkan sebagian besar dananya pada instrumen saham di pasar modal. Artinya, kinerja produk ini sangat bergantung pada pergerakan harga saham berbagai perusahaan yang menjadi instrumen portofolionya. Karena saham bergerak setiap hari mengikuti kondisi ekonomi, sentimen pasar, serta kinerja masing-masing perusahaan, nilai reksa dana saham juga akan mengalami naik dan turun yang relatif lebih besar dibandingkan jenis reksa dana lain seperti pasar uang atau pendapatan tetap.
Baca Selengkapnya
Insight Renewable Energy Fund: Investasi Berkelanjutan dengan Dampak Nyata
Insight Renewable Energy Fund: Investasi Berkelanjutan dengan Dampak Nyata
Baca Selengkapnya
Weekly Newsletter 30 April 2026: Menjelang Pembukaan Selat Hormuz, Namun Ketidakpastian Masih Tinggi Bagaimana Strategi Investor?
Ketidakpastian Global Meningkat, Bagaimana Strategi Investor? Dalam beberapa pekan terakhir, dinamika global kembali memanas dan memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan. Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran pada putaran kedua memicu lonjakan harga minyak Brent hingga +16,5% secara mingguan ke level USD 106,8 per barel, bahkan sempat menyentuh USD 111 per barel per 29 April. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz.
Baca Selengkapnya
