Weekly Newsletter 27 Maret 2026: Dampak Perang US–Israel vs Iran Terhadap Ekonomi Indonesia dan Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Global
Selama periode libur Lebaran pada 18–24 Maret 2026, terdapat berbagai perkembangan penting yang perlu diperhatikan oleh investor menjelang kembali dibukanya perdagangan di bursa.
Perang antara AS, Israel, dan Iran kini telah memasuki pekan keempat dan menunjukkan eskalasi yang semakin intens. Serangan dari pihak AS dan Israel terus berlanjut, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang meluas hingga ke beberapa negara di kawasan Teluk.
Ketegangan ini turut mengganggu jalur perdagangan global, terutama di Selat Hormuz, yang hingga kini masih mengalami gangguan signifikan. Ribuan kapal dilaporkan tertahan di kawasan tersebut, menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia.
Di tengah situasi tersebut, pada 23 Maret, Donald Trump sempat penundaan selama 5 hari untuk semua serangan ke fasilitas energi Iran setelah pembicaraan yang baik dan produktif dengan Teheran. Namun, pernyataan ini langsung dibantah oleh pihak Iran, sehingga ketidakpastian masih tetap tinggi.
Pernyataan Donald Trump terkait penundaan serangan sempat mendorong harga minyak turun ke level USD 98,54 per barel (-5,74%). Meski demikian, per tanggal 27 Maret Harga Brent oil kembali menguat ke level 106,9 (> 5%) Usd perbarel didukung oleh tensi geopolitik yang memanas setelah upaya diplomasi menemui jalan buntu. Iran juga menolak prosposal damai 15 poin dari pemerintahan Trump, yang dibalas dengan ancaman kontrol atas selat Hormuz.
Harga minyak saat ini tersebut masih tergolong tinggi, terutama jika dibandingkan dengan asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang berada di kisaran USD 70 per barel.
Sebagai gambaran, setiap kenaikan USD 1 per barel di atas asumsi tersebut berpotensi menambah defisit APBN sekitar Rp6,7 triliun. Dengan harga minyak yang saat ini berada di kisaran USD 106,9 per barel, beban subsidi energi diperkirakan meningkat hingga sekitar Rp247,23 triliun.
Kenaikan subsidi yang signifikan ini berisiko mendorong defisit APBN melampaui batas aman 3%, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Situasi ini juga dapat meningkatkan risiko penurunan outlook dari lembaga pemeringkat seperti Moody's dan S&P Global Ratings, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah serta memicu arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

Sumber:Trading Economics
Di sisi lain, lonjakan harga minyak juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, seiring dengan naiknya biaya transportasi dan logistik. Saat ini, inflasi telah mencapai 4,76% dan masih berpotensi meningkat apabila tekanan dari sisi energi terus berlanjut.
Pada perdagangan 25 Maret 2026, IHSG memang sempat ditutup menguat 2,75%, namun kenaikan tersebut dinilai belum berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Selain itu, suku bunga yang berpotensi tetap ditahan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi juga membatasi ruang penguatan pasar saham. Terbukti pada perdagangan bursa 26 Maret 2026, IHSG ditutup melemah -1,89%.

Sumber: Trading Economics
Di sisi lain, tekanan justru terlihat jelas di pasar obligasi. Yield SUN tenor 10 tahun tercatat naik signifikan sebesar 44 basis poin, dari 6,42% di awal Maret menjadi 6,86% per 24 Maret 2026. Bahkan, yield sempat menyentuh 6,91% pada 16 Maret, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025.
Kenaikan yield ini tidak hanya terjadi pada tenor acuan, tetapi merata di hampir seluruh tenor, mengindikasikan bahwa tekanan jual bersifat lebih struktural dan mencerminkan repricing risiko. Investor saat ini cenderung meminta premi risiko yang lebih tinggi, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan lonjakan harga energi. Dalam konteks ini, posisi Indonesia menjadi kurang menguntungkan di mata investor global. Meskipun secara teori spread yield yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik, dalam kondisi saat ini hal tersebut justru mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset domestik.
Dalam kondisi tersebut, salah satu pilihan yang relatif menarik dalam jangka pendek adalah reksa dana pasar uang. Hal ini didukung oleh berbagai faktor, seperti pelemahan rupiah, potensi peningkatan defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak, serta tekanan inflasi yang masih tinggi. Dengan kondisi tersebut, suku bunga diperkirakan akan tetap bertahan di level tinggi, setidaknya sepanjang 2026. Dengan demikian, reksa dana pasar uang berpotensi memberikan imbal hasil yang relatif stabil dan tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Reksa dana Pilihan Minggu Ini

Reksa dana pasar uang menjadi pilihan utama saat ini di tengah pelemahan rupiah, potensi peningkatan defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak, serta tekanan inflasi yang masih tinggi. Dalam kondisi tersebut, suku bunga diperkirakan akan tetap berada pada level tinggi, setidaknya sepanjang 2026.
Dengan demikian, reksa dana pasar uang menjadi salah satu instrumen yang paling menarik karena menawarkan risiko yang relatif rendah sekaligus imbal hasil yang tetap optimal.
Beberapa pilihan reksa dana pasar uang yang menarik yaitu Pinnacle Money Market Fund, Avrist Ada Liquid Syariah dan Sucorinvest Money Market Fund. Yuk investasi reksa dana di Sayakaya!
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.
Lihat Blog Lainnya
Daftar NPWP Produk Reksa Dana di Aplikasi SayaKaya
Kesulitan menemukan NPWP saat pembayaran pajak di Coretax?
Baca Selengkapnya
Cara Memilih Reksa Dana yang Tepat Berdasarkan Tujuan Anda
Banyak orang memilih reksa dana hanya berdasarkan kinerja masa lalu, rekomendasi teman, atau produk yang sedang populer. Pendekatan seperti ini sering berakhir dengan kekecewaan, karena reksa dana yang cocok untuk satu orang belum tentu sesuai untuk orang lain. Setiap orang memiliki kebutuhan, jangka waktu, dan toleransi risiko yang berbeda.
Baca Selengkapnya
Bagaimana Cara Top Up Portofolio dengan Rekomendasi SayaKaya?
Top up portofolio di aplikasi SayaKaya dapat dilakukan dengan mudah melalui beberapa langkah sederhana. Proses ini membuat Kamu bisa untuk menambah investasi secara cepat dan langsung dari aplikasi.
Baca Selengkapnya
